Aku Perempuan, dan Inilah Keputusanku

Hari ini, di seluruh penjuru dunia berbaris-baris perempuan melakukan protes yang berjudul “Women’s March”. Melihat inisiatif acara tersebut, saya pun memantau kawan-kawan saya yang turut melakukan demonstrasi. Demonstrasi ini...
sumber : lifehack.org

Hari ini, di seluruh penjuru dunia berbaris-baris perempuan melakukan protes yang berjudul “Women’s March”. Melihat inisiatif acara tersebut, saya pun memantau kawan-kawan saya yang turut melakukan demonstrasi. Demonstrasi ini ditekankan oleh penyelenggara bahwa hal ini bukanlah gerakan Anti-Donald Trump. Khususnya mengingat kutipan Donald Trump terhadap perempuan yang berisikan “Grab her by her pu**y” yang disebarluaskan kepada publik semasa kampanye. Women’s March ini menjadi gerakan para perempuan khususnya di Amerika Serikat menyusul setelah kampanye “I’m With Her” dan “Throw Like a Girl” yang menjunjung tinggi hak perempuan dan mengecam tindakan objektifitas perempuan.

Women's March di St. Louis, AS

Women’s March di St. Louis, AS (sumber : Rosalina Syahriar)

Setelah cukup puas melihat berita mengenai Women’s March, saya pun membuka perbincangan dengan salah satu sahabat mengenai perempuan.

Mungkin setiap weekend saya membuka sosial media, seisi timeline saya adalah : Pertunangan – Pernikahan – Kelahiran dan segala berita bahagia. Berangkat dari situ, mengingat saya sebagai perempuan yang berusia di sekitaran 20tahun (jangan tanya berapanya), seberapa sering kerabat dekat bertanya kepada saya : Kapan nikah?

Dan jawaban saya selalu : Nanti aja

Kenapa ‘nanti aja’? Karena jodoh hanya Tuhan yang tahu, dan juga, masih enak nyari duit. Lalu kemudian terjadilah ceramah mengenai kebahagiaan dan bagaimana pernikahan bisa membuahkan kebahagiaan. Kalau bisa dibilang, bukan berarti saya menolak yang namanya pernikahan. Tapi menurut saya, pernikahan merupakan hak sepasang orang untuk membuat keputusan, jadi kapanpun nantinya saya siap mengambil keputusan, ya itulah waktunya.

Terus hubungannya dengan perempuan apa? Semakin sering saya buka perbincangan, semakin sering (bukan selalu) saya melihat bahwa keputusan yang diambil oleh para perempuan dipengaruhi oleh masyarakat atau yang dikenal dengan peer-pressure. Jadi tidak heran di usia saya yang segini, semakin banyak orang yang berharap saya menikah, “Biar ada yang ngurusin” katanya – atau bahkan sebaliknya. Walaupun tanpa disadari, justru terlalu banyak yang saya urusin dan ngurusin saya, jadi sebaiknya disaat saya siap saja barulah saya berpikir ke arah sana dibandingkan harus banting setir dan balik arah.

sumber : We Heart It

sumber : We Heart It

Hal ini pun mengingat bahwa peran perempuan lekat dengan peran ibu, dan tidak sedikit orang yang berpikir bahwa peran ibu adalah perempuan yang siap siaga di rumah dan memastikan bahwa makanan tersedia dan rumah tertata rapi. Walaupun di jaman modern ini (thanks to Ibu Kartini), perempuan memiliki kapasitas untuk mengambil keputusannya sendiri tanpa harus mengikuti ‘kategori’ atau ‘kotak’ yang disiapkan oleh masyarakat. Namun, pertanyaan berikutnya, apakah kita siap untuk menyerahkan kepada perempuan ini segala keputusan dan resiko yang harus ditanggungnya? Karena tanpa bias gender, perempuan sebagai manusia, tetap harus menanggung resiko dengan catatan bahwa mereka harus bisa belajar dari kesalahannya sehingga mereka tidak tersandung batu yang sama dua kali. Jadi jangan menyesali setiap kesalahan yang kita buat. Belajar dan jadilah perempuan yang kuat.

Dan lalu beranjak kepada penilaian perempuan sebagai mandiri dan feminis, patutkah kita berbangga?

feminisme /fe·mi·nis·me/ /féminisme/ n gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. (Pelaku feminisme disebut sebagai feminis.)

Perlu diingat bahwa feminis disini mengingatkan kita bahwa perempuan mampu melakukan segala aktifitas tanpa melihat keterbatasan gender. Itu pula cara kita mengingatkan diri kita sendiri agar tidak berhenti belajar dan jangan pernah meremehkan kemampuan perempuan di luar sana.

Karena kita hidup itu : live, learn and forget.

Categories
Cerita

Dream writer, your delinquent enemy and devoted lover.
No Comment

Leave a Reply

*

*

   

RELATED