Kawan, kita telah diawasi!!

Di era mobilisasi yang serba cepat dengan pergerakan sosial media yang pesat membuat ketenaran jadi sebuah tujuan dan mungkin sebagai cita-cita bagi sebagian orang
lovethispic.com

Pernah gak lo ngerasa kalau lo lagi diliatin sama orang? Atau perasaan di mana lo lagi jalan terus diikutin sama orang lain dari belakang otomatis lo nengok dan curiga abis sama orang yang ada di belakang lo? Perasaan ini adalah perasaan paling gak enak karena lo merasa gak nyaman dan gerak-gerik lo diawasi sama seseorang. Lo merasa bahwa hari-hari jadi sempit, ruang gerak lo jadi terbatas karena lo diawasin dan lo jadi gak tenang.

giphy.com

giphy.com

Di tahun 1998 ada film keren banget namanya Truman Show. Kenapa film ini keren banget? Karena film ini menceritakan di mana seseorang selama hidupnya ternyata diawasi sama televisi dan dirinya telah ditonton sama banyak orang. Di film itu sang karakter utama yang diperanin sama Jim Carrey akhirnya merasa gusar karena hidupnya selama ini cuma skema besar dari komersialisasi.

Tidak bisa disalahkan, dari jaman baheula kita juga udah tahu kalau ketenaran akan membawa dampak baik bagi kantong

Yang menjadi aneh adalah, perasaan yang dimiliki Jim Carrey di film Truman Show dan perasaan saat lo diikuti orang itu di era modern sekarang telah hilang. Telah luruh namun tumbuh menjadi komoditi. Kenapa begitu? Tahu vlog? Yup, sepertinya banyak banget orang yang sekarang mencoba mengekspos dirinya kepada orang lain tanpa perasaan bahwa dia telah diawasi malah berlomba-lomba untuk diawasi dan diikuti dan dikerubungi untuk sekilas ketenaran.

Tidak bisa disalahkan, dari jaman baheula kita juga udah tahu kalau ketenaran akan membawa dampak baik bagi kantong, namun juga kita juga tahu tapi rasanya (tak ingin terlalu) disadari bahwasanya ketenaran berdampak buruk hingga bisa menyebabkan kematian. Lebay? Gak kok, ada berapa banyak artis korea yang udah berhasil untuk tenar akhirnya memilih untuk bunuh diri karena alasan “udah terlalu tenar”? Ada “kemiringan” berpikir kalau cuma menganggap bahwa ketenaran itu hanya memberikan efek baik.

Semua percakapan lo via telpon dan semua video pendek lo yang menceritakan keseharian lo juga masih tersimpan rapih dalam database aplikasi-aplikasi tersebut, di situ masalah akan muncul: Untuk apa semua hal itu disimpan?

Di era mobilisasi yang serba cepat dengan pergerakan sosial media yang pesat membuat ketenaran jadi sebuah tujuan dan mungkin sebagai cita-cita bagi sebagian orang. Banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan secuil ketenaran yang dia lihat dari orang yang dia kagumi. Hal ini bagai pedang bermata dua, di satu sisi bahwasanya mengincar ketenaran bukanlah hal yang salah dan buruk, karena tiap orang berhak untuk melakukan apa yang dia ingin lakukan selama tidak merugikan orang lain tapi di sisi lain yang di mana adalah sisi buruk jadi diindahkan oleh para pemakai sosial media yang mngincar ketenaran, yaitu bagaimana para pengincar ketenaran ini telah diawasi selama 24/7 oleh orang lain dan menjadi hal yang dilumrahkan.

Tidak ada salahnya memang untuk menjadi baik, cheerful dan terbuka kepada hal dan orang baru, tapi menjadi selektif bukan juga hal yang buruk bukan?

Begitu banyak orang yang melumrahkan dirinya telah diawasi oleh orang random yang tidak ia kenal, bukan ingin berprasangka buruk terhadap orang lain, namun hal buruk terjadi karena adanya kesempatan dan ditambah dari niat buruk pelakunya. Bukan takut rumah bakal dibobol, atau lo bakalan dirampok orang ditengah jalan karena lo mengekspos diri lo ada di mana dan lagi melakukan apa, tapi jauh dari itu identitas lo sebagai manusia bisa terenggut. Bagaimana kehidupan lo terekam di dalam mesin aplikasi dan lebih parahnya lagi terekam dalam memori orang lain yang lo gak kenal.

Tidak ada salahnya memang untuk menjadi baik, cheerful dan terbuka kepada hal dan orang baru, tapi menjadi selektif bukan juga hal yang buruk bukan? Pernah denger nama Edward Snowden? Dia harus di esktradisi dari negeranya (Amerika Serikat) dan jadi buruan interpol dunia karena membocorkan rahasia negaranya yang telah mengawasi tiap centi gerak dari rakyat Amerika setelah insiden 9/11. Ini bukan masalah receh, ini masalah besar yang dibuat seolah-olah receh. Ketika semua data yang lo punya, seperti alamat rumah, nomer telpon, password email, yang lo kira aman ternyata diketahui orang lain selain diri lo. Semua percakapan lo di ruang chatting yang lo punya di smartphone lo ternyata tidak terhapus dan malah tersimpan, semua percakapan lo via telpon dan semua video pendek lo yang menceritakan keseharian lo juga masih tersimpan rapih dalam database aplikasi-aplikasi tersebut, di situ masalah akan muncul: Untuk apa semua hal itu disimpan?

giphy.com

giphy.com

Tapi, anggaplah kita percaya pada semua aplikasi yang kita percaya untuk menyimpan semua hal tersebut walaupun sudah lo hapus dan kemungkinan terbesar yang terjadi adalah, semua data lo disimpan untuk mengenali consumer behavior dan jadi data buat “jualan” dari aplikasi tersebut dan hal tersebut masih belum merugikan diri lo. Namun, apa lo bisa percaya sama orang yang menonton lo di YouTube, Bigo, Snapchat? Semua followers lo di Instagram, Facebook? Dan marilah berasumsi bahwa lo percaya semua followers lo karena banyak banget selebritis dalam maupun luar negeri yang menggunakan aplikasi sosial media untuk menyentuh penggemarnya, tapi mereka selebritis dan mereka bukan lagi orang biasa, mereka punya kekuatan untuk pergi ke perusahaan jasa sekuritas untuk mengamankan semua akun sosial media, email, saluran telepon hingga menyewa bodyguard untuk menjaga rumah. Dan lo? paling yang jagain lo cuma satpam ronda.

Okay, lo gak merasa mereka hadir dihadapan lo karena mereka ada di dalam smartphone lo, tapi yang mesti lo ingat adalah they’re all are real people.

Ketika banyak orang melumrahkan dirinya untuk diawasi orang lain selama 24/7, dan ini adalah orang biasa yang ingin mendapatkan ketenaran secara instan, rasanya ada beberapa contoh yang bisa menjadi bahan tulisan ini dari yang heboh gara-gara buat video karena diputusin atau karena memamerkan keyaannya dan menghina orang lain sampai mendapat teguran dari pihak berwenang. Hal ini bukan hal lucu yang layak di “haha-hihi” hal ini menjadi hal serius karena tidak ditanggapi terlalu serius: Bahwa banyak orang melumrahkan dirinya diawasi selama 24/7 lewat jejaring sosial media yang mereka punya. Memang tak selamanya diawasi itu buruk, tapi kembali lagi ke paragraf awal yang ada di atas, seberapa nyaman sih lo pas lagi jalan diikutin sama orang? Seberapa nyaman sih lo lagi duduk sendirian di sebuah ruang dan banyak orang cuma menatap ke diri lo seorang?

giphy.com

giphy.com

Okay, lo gak merasa mereka hadir dihadapan lo karena mereka ada di dalam smartphone lo, tapi yang mesti lo ingat adalah they’re all are real people. Semua orang yang memuji sampai menghardik lo bahkan yang sampai membahas kesensualan tubuh lo adalah orang yang juga hidup dan bernafas sama seperti lo. Lalu, apa bedanya ditatap langsung di depan umum sama ditatap langsung dari layar smartphone? Setipis rambut bedanya.

Bukan ingin menakut-nakuti atau lebih parahnya menghakimi pilihan hidup orang lain, namun ada baiknya pilihan lo saat mengunggah konten yang berkaitan tentang diri lo, lo pikirin menggunakan otak bukan jari karena kawan, kita telah diawasi.

Categories
CeritaDope

Jangan garuk yang enggak gatel
No Comment

Leave a Reply

*

*

   

RELATED