Kita Adalah Generasi Yang Enggan Terhadap Tanggung Jawab

Dan semua kesenangan masa muda diformalin agar terus awet dan tahan lama.
movie.disney.com

Tua itu pasti sedangkan dewasa itu pilihan, katanya. Itu adalah ungkapan yang sering hadir di sela-sela obrolan semi serius atau yang sudah menjurus serius di tongkrongan manapun. Ungkapan yang biasa terucap dengan nada sederhana namun jika dipikir ada benarnya juga. Sebab, kita tak ada yang bisa mengulang masa muda lalu secara otomatis akan semakin menjadi tua dan tidak semua orang yang sudah tua juga bisa bersikap dewasa.

Tuduhan yang tendesius terhadap orang tua? Tidak juga, ingat ga sama Mentawai yang sempat terkena Tsunami di akhir tahun 2010? Ingat Ketua DPR kita waktu itu Pak Marzuki Alie bilang apa? Yup, dia bilang “Kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai”. Siapa coba yang ga sedih dengarnya? Seorang Ketua DPR yang notabenenya pasti udah tua masa menanggapi korban Mentawai bisa enteng lidah begitu? Sedangkan keyakinan ini bilang kalau anak kecil saja pasti ga bakal tega ngomong serupa. Belum lagi kalau mau diingat kasus bagaimana Pak Munarman dari FPI “menuang” kopi di wajah Pak Thamrin Tomagola seorang professor dari Universitas Indonesia di salah satu stasiun tv swasta yang warnanya merah. Dari kasus Pak Munarman “menuang” kopi ke wajah Pak Thamrin saja kita sudah bisa tahu mana orang tua yang bersikap dewasa mana yang bersikap tidak mau kalah seperti anak bocah.

Generasi sekarang adalah generasi yang ingin terus muda dan membotox dirinya masing-masing dengan kegiatan yang aktual dan kontemporer

Mari lupakan orang-orang tua di atas dan mari berfokus pada ungkapan “Tua itu pasti sedangkan dewasa itu pilihan”. Ungkapan sederhana di tongkrongan atau akun official di Line itu menjadi rumit ketika kita diaplikasikan benar-benar ke kehidupan. Umur bertambah and shit got real dan akhirnya lo udah sampai ke dalam umur di mana lo udah harus bersikap seperti orang tua yang dewasa. Lo udah harus bisa hidup mandiri.

Tapi apakah merubah sikap seperti itu adalah hal yang lo mau ataukah itu paksaan? Okay, jika itu bukan paksaan maka itu hal yang lo mau, berarti lo udah siap untuk menjadi orang tua yang dewasa, atau biasa disebut mature. Namun, sesiap apa lo? Berapa umur lo sekarang? 20? 25? Apa yang udah lo lakuin di umur segitu buat jadi orang tua yang dewasa? Dulu persitiwa Rengasdengklok diprakarsai sama orang-orang seumuran lo, brur hahaha. Kejauhan? Umur lo 20? 25? Dan baru mulai mau mikir buat menjadi orang tua yang dewasa alias mature? Bitch please…. Coba lo tutup mata lo dan mencoba mengingat umur berapa nenek dan kakek lo nikah? Hmmm yup, 17? 18? Atau lebih muda lagi? Lo paling sekarang baru mikirin mau kemana pas weekend. Ya kan?

Dan semua kesenangan masa muda diformalin agar terus awet dan tahan lama.

Ada perubahan pola pikir dan tingkah laku tentang kapan itu tua dan di mana itu dewasa. Kalau orang jaman dulu 17 udah tua, Bung Karno umur segitu udah wara-wiri mikirin gimana caranya memerdekakan Indonesia tanpa perlu angkat senjata lagi. Sekarang? Umur 17 tahun masih ngumpetin celurit di got buat dipakai tawuran. Itu masih dalam skala 17 tahun, umur di mana semua hal adalah tentang kawan dan pacaran. Di umur 20 ke atas, things starting to get real.

Kakek nenek lo umur 20 tahun udah mikirin ngurus anak dan bagaimana membiayai anaknya sekolah, atau bahkan lebih muda dari itu atau bahkan itu bukan kakek nenek lo dan itu bapak ibu lo sendiri yang mengalami hal tersebut. Tapi di Zaman sekarang, 17 tahun masih bocah bau kencur yang pipis aja belum lurus dan umur 30 masih belum tua-tua banget juga. Zaman sekarang ini ada kesenjangan yang jauh antar generasi atau dalam bahasa londo biasa disebut generation gap.

Salah satu generation gap yang terasa adalah saat di mana banyak anak muda sekarang mulai menjauh dari budayanya sendiri, jauh dari akar di mana ia tumbuh, sedang pohon saja kalau jauh dari akar pasti lambat laun akan kering dan lalu mati. Namun, mungkin tulisan tentang itu akan dituangkan dalam kesempatan lain. Mari berfokus di mana generation gap ini paling Nampak jelas terlihat yaitu dalam hal keengganan atau keputusasaan (?) untuk mempunyai tanggung jawab. Yup! Itu dia!

Coba sekarang bayangkan ada berapa banyak anak muda dalam usia 20 tahunan merasa dirinya belum mau untuk menikah, padahal gaji sudah tetap dan bahkan pasangan sudah ada. Ada ketidakmauan untuk mempunyai tanggung jawab sebesar itu.

Belum lagi dalam hal ekonomi di mana banyak anak muda usia 20 tahunan belum mempunyai tempat tinggal sendiri dan masih tidur di kamar yang dia tempati sejak kecil dengan sedikit modifikasi, tapi emang sih harga rumah zaman sekarang, gila brur! Seorang broker rumah yang juga Ibu dari salah satu anak Bujang sampai pernah mengeluh, “Gimana caranya yah kalian mau punya rumah kalau rumah harganya udah 3 M gini?” dan kami yang mendengar seraya menjawab dalam hati, “Excatly, tante, exactly” sambil menangguk-ngangguk mengkhayalkan mempunyai rumah di bilangan Bintaro.

Dude, this is reality, there’s nothing more real than this shit, bruh! Generasi sekarang terjebak entah dalam keputusasaan atau keengganan untuk memiliki tanggung jawab yang lebih dari sebelumnya. Di suruh nikah jawabannya entar dulu masih belum siap, di suruh cari kerja yang bener sekalinya udah dapet kerja per tiga bulan udah mikirin pindah kantor baru, daftar kartu kredit, eh, malah dipakai sampai limit dan akhirnya gaji bulanan cuma terasa asep knalpotnya doang di rekening karena nebut banget keluar dari rekening.

Tapi, di sisi lain, pada saat di suruh nikah bukan cuma mental yang enggak siap, tapi juga finansial dan keperluan rumah tangga yang makin lama makin tinggi yang membuat diri jadi lebih tidak siap. Banyak anak muda yang enggak sadar betapa tingginya biaya perbulan dari sebuah rumah tangga.

Salah satu teman yang masih jomblo dan notabenenya masih tinggal sama orang tua bersama dua adiknya di rumah bilangan BSD kaget setengah mati saat tahu pengeluaran perbulan di rumahnya menyentuh angka hampir 30 jutaan, sedang gaji dia aja cuma 3 jutaan perbulan, I mean if he wanna get married right now, how the fuck with that kinda salary he could afford to feed his own entire family with human food, right? And he’s like 20 something years old (I personally have had suggested all of my friend to make petition for allowing RV here in Indonesia cause it’s like cheaper and it’s fun way of living, but it was just like for a joke) But dude, seriously, we are in a deep deep shit.

Ada perubahan, zaman dulu para orang tua umur 20 tahunan sudah siap membangun rumah tangga. Secara harfiah. Rumah yang ada tangganya buat istrinya dan anak-anaknya kelak. And us? May god help us on this madness.

“Gimana caranya yah kalian mau punya rumah kalau rumah harganya udah 3 M gini?” Keluh Ibu dari salah satu anggota Bujang yang juga bekerja sebagai broker rumah

Lalu apakah generasi sekarang bisa bertahan jika terus-terusan dalam keputusasaan atau keengganan dalam mempunyai tanggung jawab? Well, sebagian orang memang putus asa dalam mempunyai tanggung jawab dan kebanyakan dikarenakan masalah finansial akhirnya urung untuk punya tanggung jawab yang besar walaupun mungkin mereka mau.

But others, karena mereka belum mau punya tanggung jawab sebesar itu. Belum mau untuk menikah, belum mau untuk mempunyai anak, belum mau untuk punya pekerjaan tetap. Ya mereka menjalani hidup mereka semau-mau mereka dan berharap umur tak meneror mereka untuk melakukan apa yang mereka sukai.

Generasi sekarang adalah generasi yang ingin terus muda dan membotox dirinya masing-masing dengan kegiatan yang aktual dan kontemporer yang terkenal seru dan dapat merangsang jiwa muda untuk terus keluar. Dan semua kesenangan masa muda diformalin agar terus awet dan tahan lama.

Coba bayangkan ada berapa banyak orang tua dan om-tante atau yang biasa disebut Generasi X bahkan tahap Pre-Baby Boom dan Baby Boom yang kita tahu dan kenal, telah atau sedang bekerja puluhan tahun dalam satu perusahaan yang sama, perusahaan yang itu-itu saja. Kalau sudah masuk perusahaan A yaudah perusahaan A aja terus sampai pensiun. Sedangkan generasi sekarang? 6 bulan aja udah minta resign dengan alasan gajinya kecillah, lingkungannya ga asyiklah, di kantor sekarang begadang mululah, pengen buat usaha sendirilah pokoknya macem-macemlah alasannya.

Mungkin karena timbul kebosanan (atau mungkin jiwa entrepreneur yang kuat?) atau mungkin benar kata orang di luaran sana, kalau kita semua sekarang adalah bukan lagi Generasi Y atau Generasi Z, kita generasi yang baru, kita Generasi P alias Generasi Peter Pan: Generasi yang menolak untuk menjadi tua. 

Maksud tua di sini bukan cuma secara umur tapi juga menolak tanggung jawab yang ikut bersama pada saat menjadi tua seperti membiayai anak, istri atau suami, nganterin anak ke sekolah pagi-pagi, bayar listrik dan mengatur pengeluaran perbulan, menunda semua destinasi liburan, ngurus ulang tahun anak yang pertama dan bayang-bayang tanggung jawab lain yang ikut pada saat menjadi tua.

Jika kita adalah Generasi Peter Pan yang menolak tua dan enggan terhadap tanggung jawab, apakah ungkapan “Tua itu pasti sedangkan dewasa itu pilihan” kini masih relevan? Apakah kita bisa tetap muda dan bertindak dewasa pada saat enggan terhadap tanggung jawab? Atau ternyata kita sudah menjadi tua hingga tak berdaya lagi menjadi dewasa lalu membotox diri agar tetap muda supaya terhindar dari rumitnya mengurus anak dan memikirkan biaya listrik? Yeah i know, crazy right?

Categories
CeritaDopeFeatures

Jangan garuk yang enggak gatel
No Comment

Leave a Reply

*

*

   

RELATED