Lambang Damai Jadi Ramai

Ketika lambang damai berjalan tanpa makna dan arti.
sumber: wallpapercave.com

Era perang dingin pada akhir tahun 40-an hingga awal tahun 90-an merupakan masa-masa paling mencekam dibelahan dunia manapun, brur! Apalagi di negeri barat. Saat dua poros dunia yang udah banyak makan asam garam dalam perang dunia II ngambek-ngambekan dan akhirnya sembunyi-sembunyi buat jadi yang pertama. Dunia seakan terbelah dua karena adu kuat antara Amerika dan Uni Soviet pada saat itu, brur. Dan dari dua poros itu sama-sama nge-klaim kalau punya senjata nuklir. Ngeri juga yah, brur…

www.giphy.com

Perang dingin tuh terjadi sekitaran tahun 1947 sampai 1991. Nah, dalam kurun waktu yang enggak pendek itu banyak banget gerakan-gerakan yang dilakukan sama aktivis-aktivis perdamaian demi terciptaya dunia yang bersih dari yang namanya invasi dan perang. Salah satu dari aktivis-aktivis yang bekerja demi perdamaian dunia era perang dingin, tuh ada Gerald Holtom yang asalnya dari Inggris, dia selain jadi aktivis Si Gerald Holtom ini juga seniman yang bekerja untuk kementrian pendidikan Inggris pada saat itu. Dan Si Gerald Holtom inilah orang yang pertama kali memprakarsai dan membuat lambang peace yang akhirnya banyak kita lihat atau mungkin kita punyai sebagai aksesoris fashion. Ngaku deh, punya kan lo!?

www.giphy.com

Tapi sebelum lambang peace kayak yang sekarang lo tahu, dulu si Gerald Holtom ini awalnya buat bentuknya tuh salib gitu, cuman karena ada pertimbangan lain jadilah lambang yang salib dulu diganti dengan lambang yang sekarang lo tahu.

Lambang Peace

Gerald Holtom

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lambang peace itu sendiri terdiri dari dua unsur, brur, pertama, yang berbentuk segitiga dan bagian yang kedua adalah yang tegak lurus. Makna dari bentuk itu tuh diambil dari gerakan semapur yang dulu lo pelajarin di pramuka, brur, yang berarti ND kependekan dari “Nuclear Disarmament” yang artinya pelucutan nuklir. Lambang ini pertama kali digunain pas gerakan perdamaian di Inggris yang dikenal dengan “The Aldermaston Marches” pada tahun 50-an dan 60-an.

sumber: thetimes.co.uk

Kalau orang dulu demo tuh keren yah, brur, bisa bikin sejarah, jaman sekarang demo? Bisa bikin macet!

giphy.com

Pada saat perang dingin masih berlangsung lambang ini udah menjamur nih, brur, apa lagi dikalangan kaum hippearce, eh, hippies hehehe kaum hippies ini meyakini bahwa perdamaian adalah tujuan hidup. Dan sekarang lambang itu jadi makin ramai sebagai penghias dalam kamar, kaus, dinding kafe-kafe hingga jadi aksesoris fesyen seperti gelang, kalung, cincin bahkan sepatu, tapi kayaknya nih brur, lambang peace yang dikomersilkan malah jadi terkesan menghilangkan sejarahnya yang begitu sakral untuk menghentikan sebuah tragedi kemanusiaan dan menjadikan lambang tersebut hanya sebagai pundi-pundi pemasukan. Sayang banget sih sebenernya kalau sekarang lambang peace bertransformasi menjadi gaya-gayaan agar terlihat keren dan pas, tanpa tujuan ingin mengkampanyekan perdamaian. Ya enggak brur?

sumber: giphy.com

Selain itu, lambang peace kayaknya juga udah bergeser dari lambang yang merepresentasikan perubahan dan perdamaian, seakan-akan jadi lambang keserakahan karena eksploitasi tanpa edukasi, jadi terkesan lambang ini cuma digunakan untuk menebalkan dompet para produsen tapi tidak mengisi otak dari konsumen. Ada kesan kalau lambang peace ini hanya sekedar lambang untuk bisa diakui dalam lingkungan sosial dan dianggap manusia yang mendukung perdamaian, padahal belum tentu, karena perdamaian bukan hanya membutuhkan lambang tapi juga komitmen. Setuju?

sumber: giphy.com

Ekspektasi yang tinggi terhadap lambang peace pada era perang dingin sedang hangat-hangatnya udah menjadikan lambang tersebut dieksploitasi untuk keuntungan-keuntungan beberapa pihak. Apakah ini jadi masalah? Sebenernya enggak sih, brur, asal pas lo pakai lambang peace itu, lo paling enggak udah tahu tuh, asal-usulnya dan bagaimana dulu lambang ini tuh sakral banget karena tujuannya buat mempromosikan perdamaian, jadi pas lo pakai, lo udah menjadi agen perdamaian, brur!

 

 

 Sumber: wikipedia.org, pinterest.com, islingtontribune.com

Categories
Meninjau Kembali

Jangan garuk yang enggak gatel
No Comment

Leave a Reply

*

*

   

RELATED