Pacaran Beda Agama. Tabrakin Apa Berhenti Aja?

The dilemma, right guys? Huft
goodmenproject.com

Chapter 1: The Problem

Perbedaan agama adalah hal yang sensitif, bagaikan berjalan dalam jembatan yang sudah goyang, sedikit salah langkah bisa jatuh jauh ke bawah. Tapi membahas perbedaan agama juga bisa menjadi seru dan menjadi bahan pemikiran juga pendewasaan, bahwa perbedaan juga memungkinkan untuk membahagiakan. Namun, sepertinya masih kurang ribet jika ingin membahas hanya tentang perbedaan agama, bagaimana kalau tambahkan hubungan antar dua sejoli di dalamnya? Hmmm…. Coba cium aromanya, makin sedap kan?

Seperti makan bakso, makin pedas baksonya makin enak pula ketika dimakan, maka perbedaan agama juga makin bikin keringat sebesar biji jagung dan kulit kepala gatel kalau sudah melibatkan perasaan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

giphy.com

Chapter 2: Pacaran Beda Agama

Yang unik dari pacaran beda agama adalah kebanyakan dari pacaran beda agama ini biasanya dianut dalam waktu yang cukup lama atau dalam bahasa sederhananya, langgeng. Entah kenapa tapi biasanya para pasangan yang beda agama ini seperti bisa me-manage hubungan mereka dengan baik hingga bisa menjalani hubungan yang lebih lama dibanding pacaran dengan yang seagama. Tak berhenti di situ, para pasangan pacaran beda agama ini tiap ditanya, “Lo enggak mau emang sama yang seagama?” mereka akan menjawab “Mau, tapi ga ada yang lain” atau “Gue udah pernah coba sama yang seagama tapi enggak sreg aja” dan mereka akan tetap bersama pasangan mereka yang notabenenya beda agama. Keunikan tak hanya dari mereka yang menjalani hubungan tersebut namun juga untuk orang ketiga seperti teman juga tidak menganggap aneh hubungan mereka dan melihat mereka sebagai dua orang yang saling menyayangi terlepas dari agama apa yang mereka anut. Kelumrahan itu sebenarnya sudah menandakan bahwa perasaan kasih dan sayang itu bisa dirasakan terlepas dari label-label apapun. Kalau lo sayang, ya lo sayang. Ya ga brur?

Dilematis memang, karena antara ego dan identitas tidak cocok. Ego maunya terus bareng sama yang beda agama, tapi identitas bilang enggak, kalian beda.

Agama itu urusan pribadi, urusan diri sendiri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa begitu? Karena orang masuk surga dan neraka itu sendiri-sendiri tidak satu rombongan bus seperti karya wisata ke Taman Mini. Sama seperti perasaan, itu juga masalah pribadi, itu masalah antara diri sendiri dengan (dalam hal ini) pasangan. Yang membedakan hanya, komunikasi yang terjadi dalam perasaan hanya antar manusia dengan manusia, karena pasangan bukan Tuhan. Dilematis memang, karena antara ego dan identitas tidak cocok. Ego maunya terus bareng sama yang beda agama, tapi identitas bilang enggak, kalian beda. And it hurts. Tapi, sebetulnya manusia tercipta untuk menjadi beda dan sama dalam satu waktu bersamaan. Meski mungkin lebih banyak kesamaannya dibanding perbedaannya. Contohnya, walaupun pasangan pacaran beda agama ini punya perbedaan yang jelas namun mereka punya kegelisahan yang sama, mereka punya kecemasan yang sama, mereka punya rasa saling menyayangi yang sama, mereka bahkan mungkin punya selera humor yang sama. Pasangan tetaplah pasangan, terlepas dari agama yang mereka anut itu sama atau beda, akan tetap ada pelukan, ciuman dan juga pertengkaran, karena kita sebagai manusia yang beragama apapun itu sama, yang beda itu nasibnya. Ada yang punya nasib sebagai orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, atau Konghucu dan itu sama sekali bukan perbedaan yang harusnya dibesar-besarkan. Karena bagaimanapun agama mengajarkan bagaimana saling mengasihi karena masing-masing Tuhannya pun punya rasa kasih yang luar biasa bukan cuma kepada umat-Nnya tapi (sekecil-kecilnya) kepada keseluruhan isi di dalam bumi ini, lalu kenapa umat-Nya tidak mencoba mempelajari untuk bagaimana mempunyai rasa kasih dalam perbedaan?

Memang agak ribet dan bikin puyeng saat membahas pacaran beda agama, it feel so wrong yet so right.

Emang sih ribet pacaran beda agama tuh, paham. Dari masalah gimana jelasin ke orang tua, atau di atas itu gimana caranya dan mempertanggungjawabkannya ke Tuhan. Ribet kan, tapi balik lagi, masalah pertanggungjawaban itu masalah nanti dan itu masalah pribadi. Dan kalau masalah orang tua itu menjadi masalah duniawi yang paling nyata di depan mata. Beruntunglah bagi yang punya orang tua ala Amrik alias liberal, tapi untuk yang punya orang tua yang Indonesia banget, hmmm…. Rasanya kalian harus sedikit (banyak sih) bekerja keras dan bersatu bersama untuk meyakinkan orang tua kalian masing-masing tentang hubungan kalian jika hubungan kalian sudah mulai ke arah yang serius. Karena pernikahan beda agama memang belum di atur dengan jelas di hukum Indonesia, jalan keluarnya adalah harus menikah dengan 2 tata cara ritual agama atau menikah di luar negeri. Memang agak ribet dan bikin puyeng saat membahas pacaran beda agama, it feel so wrong yet so right. Banyak pertimbangan yang dipikirkan, tapi balik lagi, gimana kalau cuma dia yang layak dan lo izinkan buat jadi orang yang bisa bikin lo senang dan sedih?

Chapter 3: There’s always a problems in every relationships

Yang mesti dicatat adalah, dalam setiap hubungan pasti akan ada aja masalahnya. Mau yang beda agama atau yang agamanya sama, atau bahkan yang jenis kelaminnya sama pasti ada aja masalahnya. Paling enggak, kalau kalian menjalani pacaran beda agama kalian bisa memfokuskan masalah kalian ke pertanyaan, “Ini bisa ga sih kita kalau terus dilanjutin?” dan kalau kalian tidak bisa menentukan jawaban atas pertanyaan tersebut, jawabannya adalah, bisa, masalahnya mau atau enggak? Nah, tapi kalian udah pacaran, jadi kalian udah saling mau, jadi pertanyaan model “Ini bisa ga sih kita kalau dianjutin terus?” dan segala FPB dan KPK-nya alias turunannya bisa dieliminasi, jadi pada intinya, kalian adalah pasangan yang bebas dari masalah J (kecuali kalau si doi ganjen atau posesif aja). Kalau kalian ada yang lagi deket sama yang beda agama, coba aja dulu, sama aja kok nyakitinnya (hehehe), eh salah yah? Sama aja kok nyenenginnya, sama aja masalahnya, sama aja rasa sakitnya kalau ditinggalin dan sama aja rasa senengnya kalau di-surprise-in. Penulis tidak akan menggurui bagaimana kalian harus menjalani hubungan kalian, penulis juga tidak akan memberikan rentetan list yang kalian bisa jadikan tuntunan untuk pacaran beda agama, karena hubungan kalian lebih rumit dari list-list yang telah disederhanakan.

Chapter 4: Hubungan itu isinya hanya memperbesar risiko menyakiti diri sendiri

Yup, percaya atau enggak tapi hubungan itu isinya cuma risiko yang diperbesar. Kenapa gitu? Ya gitulah, udah enak hidup sendiri malah nambahin orang lain di hidup untuk meribetkan hidup dan peduli sama masalahnya dia juga. Ada mahkluk tambahan yang harus diberikan atensi, kasih sayang meski dia nyebelin dan suatu saat akan berubah fisik dan mungkin sifatnya. Bagaimana itu tidak memperbesar risiko dalam menyakiti diri sendiri? Lalu, belum lagi dengan adanya perbedaan agama maka risiko itu dikali 100 lalu dikasih makan junk food tiap hari, pokoknya risiko itu jadi super tambun dari sebelumnya. Lalu, kenapa orang tetap hidup bersama orang lain? Jawabannya sederhana, karena kita manusia yang lebih baik memperbesar risiko untuk sakit berdua dibanding risiko untuk senang sendiri. Dan saat kalian menjalani pacaran beda agama, berarti kalian sudah siap untuk sakit berdua dan senang berdua, atau kalian mungkin hanya masokis perasaan? Hmmm….

Chapter 5: Tabrakin atau berhenti?

Setelah tulisan panjang yang mungkin juga belum bisa memberikan ketenangan, akhirnya sampailah pada konklusi, mungkin juga sudah ada yang bisa menarik kesimpulan sendiri. Sekali lagi, penulis tidak ingin menggurui atau mendikte bagaimana kalian harus menjalani hidup kalian, namun, ada baiknya dalam hidup yang sekali ini sebagai manusia bisa luruh bersama ego sendiri jika memang itu yang diri ini mau dan efeknya ke orang lain tidak berbahaya dan tidak menimbulkan kematian. Rasanya akan baik jika sebagai manusia bisa memberikan celah pada keanomalian untuk hadir di hidup, entah keanomalian itu akan berakhir setelah 5 tahun pacaran atau keanomalian itu berlanjut hingga terjalin ikatan dan perjanjian di hadapan masing-masing Tuhan. Lo sayang sama dia? Dia ngasih lo perhatian yang lebih dibanding mantan lo? Kadang ada juga hal yang tidak bisa dijelaskan oleh orang tua atau pemuka agama tentang bagaimana hati ini mesti merasa.

giphy.com

 

Categories
Cinta

Jangan garuk yang enggak gatel
No Comment

Leave a Reply

*

*

   

RELATED