Pemimpin dan Bossy : Ketika Perempuan Mengintimidasi

Belakangan ini, perempuan di balik kesuksesan beberapa perusahaan menjadi sorotan entah dalam konotasi positif ataupun negatif. Namun harus diakui, banyak sekali jaman teknologi modern ini, perempuan terjun di dunia...
sumber : worldbusinessfitness.com
sumber : worldbusinessfitness.com

Belakangan ini, perempuan di balik kesuksesan beberapa perusahaan menjadi sorotan entah dalam konotasi positif ataupun negatif. Namun harus diakui, banyak sekali jaman teknologi modern ini, perempuan terjun di dunia bisnis yang tak jarang pula mereka mendominasinya.

Dilema ketika perempuan menjadi pemimpin adalah, kita sudah seharusnya menyingkirkan emosi dalam mengambil keputusan secara profesional. Bahkan in general, tanpa harus bertindak sebagai pemimpin, siapa pun haru menyingkirkan emosi dalam lingkup profesional. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa perempuan itu berasal dari venus dan pria berasal dari mars. Maksudnya? Perempuan dan pria berasal dari dua planet yang berbeda, berarti perempuan dan pria pun juga punya naluri dan cara berpikir yang berbeda yang disesuaikan dengan kaum dan kebiasaannya masing-masing. Tapi apakah ini sudah seharusnya membedakan secara signifikan antara kedua gender ini? Atau ini sebuah hal yang bias dan double standard?

Dari kecil, sejak jaman pramuka hingga kini, memimpin seolah mendarah daging di dalam hidup saya. Dan dari kecil, panggilan “Bossy”-pun jadi melekat, dan seperti yang kalian tahu, kata-kata “Bossy” ini konotasinya negatif, loh! Tapi kenapa istilah ini jadi melekat terhadap perempuan tapi tidak kepada laki-laki? Beberapa keputusan yang harus saya ambil sebagai pemimpin berbanding terbalik dengan hati nurani saya. Tapi sebagai pemimpin pun juga kita harus mampu melihat kemajuan sebuah perusahaan dari berbagai aspek. Dan lagi-lagi,”Huff.. Dasar bossy!”. Dan yang mengenaskannya adalah, bahkan panggilan ini juga dilontarkan oleh kedua gender, bukan hanya salah satu.

Lalu saya harus apa?

sumber : workingmother.com

sumber : workingmother.com

Dan kemudian, belum lagi kesuksesan perempuan yang mengintimidasi. Don’t get me started on that one, sepertinya sudah hakikatnya bahwa pria harus membayar makan malam pada kencan pertama. Lalu bagaimana kalau perempuan mau membayar? Atau bahkan bersikeras untuk membayar. Tidak sedikit saya dengar cerita kanan kiri dari teman-teman saya yang mengalungi kesuksesan harus mengakhiri hubungan atau bahkan bohong tentang jumlah uang yang ia dapatkan dalam waktu sebulan. Perlu diingat, perempuan suka belanja, jaman sekarang jamannya belanja online. Perempuan jadi punya barang banyak dan jadi numpuk di dalam kamar, dan sekarang jamannya jualan enggak perlu ke toko. Hasilnya? Tambahan uang kisaran Rp. 100,000 per bulan pun paling tidak sudah bisa dikantongi. Tapi masa sih, kita harus berbohong perkara duit supaya bisa mempertahankan hubungan?

On a side note : Pernah ada pria yang enggan melanjutkan hubungan karena ia merasa terintimidasi.

Pertanyaannya : Apakah kita harus merasa tersanjung atau tersinggung?

 

Categories
CeritaFeatures

Dream writer, your delinquent enemy and devoted lover.
One Comment
  • igel
    3 May 2017 at 2:29 am
    Leave a Reply

    hai brur2ku yang selalu ceria. kalo menurutku, ga perlu tersinggung apa lagi mundur jika merasa terintimidasi. karena mungkin aja itulah adanya perempuan tersebut dengan segala kelebihannya tanpa bermaksud untuk mengintimidasi/mendominasi. sedih aja kalo hubungan selesai hanya karena ‘kesalahan’ yang tidak kita perbuat dengan sengaja. apalagi kalo lagi sayang sayangnya.hwehe. trims. salam super. supermi malam malam enak juga. tapi enakan indomi.oke.sip

  • Leave a Reply

    *

    *

       

    RELATED