Pencarian Cinta Modern

"Honestly, I don't know why I ended up here"
sumber : fineartamerica.com

Jempol bergerak kiri dan kanan mencari kepastian dengan sedikit rasa deg-degan. Mata memeriksa semua secara cepat segala keindahan dan segala cacat. Hati bergemuruh ketika ada kesamaan tentang apa yang disukai. Senyum tersungging lebar ketika akhirnya ada pemberitahuan bahwa adanya kecocokan. Yup, ini membahas tentang cinta tapi bukan cinta yang tidak ortodoks. Ini cinta modern, bung!

Sumber: dribbble.com

Tinder. Siapa yang tidak tahu Tinder di era informatika yang begitu cepat merangsek ke dalam genggaman dalam wujudnya yang menyenangkan seperti biro jodoh. Tinder bisa diklasifikasikan sebagai biro jodoh independent. Kenapa independent? Karena di biro jodoh ini para “klien” menentukan sendiri calon jodoh yang dia inginkan, tanpa perlu ada bantuan mak comblang, tangan ketiga ataupun tangan orang tua yang sudah gatel nyuruh nikah sambil menyodorkan beberapa pilihan anak dari kolega mereka. Tinder menjadi pilihan yang baik untuk para orang-orang kesepian yang sedang mencari kesetiaan dengan sedikit usaha, meski di barat sana Tinder digunakan sebagai alat untuk one night stand. Istilah barat yang sudah banyak juga di antara masyarakat Indonesia yang mengerti makna dibalik istilah tersebut. Pemakaian Tinder bisa dibilang minim usaha, karena hanya tinggal di sync lewat Facebook maka jadilah satu profil pendek tentang siapa anda berikut dengan bubuhan bumbu bio yang bisa dibuat semenarik mungkin atau dibuat semisterius mungkin atau sepalsu mungkin.

Sumber: gotinder.com

Tinder adalah wadah yang menarik bagi para pencari pasangan atau hanya teman tidur semalam. Memang agak tabu membahas “teman tidur semalam” di dunia timur ini, tapi mungkin sudah saatnya menghapus kemunafikan dan melihat pada kenyataan. Walaupun tidak ada riset pasti tentang seberapa banyak orang yang memakai Tinder untuk alat pemuasan birahi namun dalam dunia yang makin terbuka ini, mungkin saja banyak. Tapi mari beranjak dari perihal “teman tidur semalam” dan mari mulai membahas tentang bagaimana sebuah media sosial begitu bisa memberikan kemudahan bahkan hingga penentuan teman hidup, sekali lagi meski tidak ada riset pasti tentang seberapa banyak orang yang menemukan teman hidupnya dari Tinder namun paling tidak kita semua pernah mendengar cerita tentang hal tersebut dan kita akan merespon dengan hal yang sama “mereka beneran, tuh ketemu di Tinder?” atau “gila yah jaman sekarang?”.

Sumber: giphy.com

Tinder adalah pencarian cinta yang non ortodoks, bagaimana sebuah rasa yang pengaplikasiannya dari dulu begitu-begitu saja dibawa masuk ke dalam dunia modern yang begitu cepat dan fleksibel. Bagaimana tidak cepat dan fleksibel saat swipe ke kanan dan kiri bisa menjadi penentuan arah jatuh cinta. Tinder juga membantu para pengelana yang putus asa dalam mencari jalan pulangnya. Keputusasaan para pencari cinta dilepaskan dari kebuntuan, dan itu hal yang baik bukan? Namun apakah benar semua yang ada di Tinder adalah orang yang putus asa? Tentulah tidak, rasanya kurang arif juga jika mengeneralisir seperti begitu, ada juga pasti yang hadir di Tinder dengan alasan hanya untuk menambah teman, atau malah dalam beberapa bio mereka mengakui bahwa mereka tidak tahu mengapa mereka bisa ada di Tinder, “honestly, i don’t know why i ended up here :)”.

Sumber: giphy.com

Tentulah dalam aplikasi biro jodoh independent ini dibutuhkan kearifan dalam pemakaiannya, jangan sampai keseruan yang ada di Tinder disalah gunakan, jangan sampai peluang cinta yang ada di Tinder dibuang begitu saja, dan jangan sampai pula meninggalkan Tinder karena alasan yang sama saat mendatangi Tinder: Keputusasaan.

Categories
Cinta

Orang paling ngasal yang doyan ngoceh
One Comment
  • Teori-Teori Semester Akhir | Bujang.net
    25 March 2016 at 4:01 pm
    Leave a Reply

    […] Pencarian Cinta Modern […]

  • Leave a Reply

    *

    *

       

    RELATED